Adalah Keluarga, Ketika “MATAPUKAN” Membuka Cerita

Ini adalah saksi perjuangan berbumbu kekeluargaan kawan-kawan Kesenian Jawa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam “MATAPUKAN”. Ya, “MATAPUKAN” begitulah kami menyebutnya.

Adalah cerita manis, cerita manis yang berawal dari agenda duatahunan, Pekan Seni Mahasiswa, agenda prestise dua tahun sekali yang menantang jiwa dan raga kita untuk menampilkan sebuah karya. Satu yang tak terlupakan adalah ketika rumor jadi atau tidaknya kita berangkat ke ranah perjuangan PEKSIMIDA yang kian santer beredar disekitar aura rektorat, sungguh menyuburkan rasa juang dan awal kekeluargaan kawan-kawan.  Tapi peksimida adalah pilihan hati-dan juga pikiran. Dengan semangat perjuangan kita jalankan. Niat dikuatkan, optimis ditegakkan, seru semangat dikumandangkan, hingga berangkatlah diri ini meniti perjuangan di ranah Surakarta. Semangat, semangat, semangat berproses untuk mencapai sebuah kemenangan, begitulah diri ini sering mengingatkan. Ah… jadi ingat kita ber-melek-melek­-an sampai jam 3 pagi dalam menyusun strategi.

Persiapan mental sudah tidak lagi dipertanyakan. Namanya juga KJ, tiada hari tanpa sesuatu yang mepet. Persiapan packing-packingpun tak selama yang kita bayangkan. Sungguh packing ala militer. Dua jam mempersiapkan segala macam sesuatunya untuk tiga minggu kedepan.  Meninggalkan segala macam kenyamanan di semarang, meninggalkan kuliah, meninggalkan sanak keluarga, teman, pacar, bahkan selingkuhan. Delapan nol nol, saat itulah jam menunjukkan, maka terboyonglah kita, TIM Kesenian Jawa menuju medan Surakarta dengan Kereta Biru kencana berplat merah UNDIP Mandiri.

Tiga minggu adalah waktu yang sengaja diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk saling merajut asa. Dan tak pernah menduga akan hasil dari sebuah proses yang benar-benar proses. Sungguh peksimida ini mempertemukan diri dengan sosok makhluk luar biasa yang tergabung dalam “MATAPUKAN”, kita sadari banyak diantara anggota tim yang belum mengenal betul satu sama lain. Masih jelas betul dalam memori, ketika team sampai ke Instutut yang penuh seni dan artistik, sejenak rileks diruang rias, terdampar semalam di ruang studio tv, hingga mendaratkan diri di ruang bawah tanah teater terbuka (sempat dua hari juga tidur dilantai :D). Ya, Itu adalah kesempatan kami untuk lebih mengenal satu-satu. Di awal proses, yang perempuan suaranya hanya terdengar sesekali (kecuali tiara & sandra). Yang laki-laki kebanyakan malu-malu kucing, sungkan, dan gengsi bertindak yang aneh-aneh demi menjaga pencitraan diri.

Hari pertama memang seperti hari pertama pada umumnya, semuanya masih merasa malu-malu dan ewuh pekewuh akan menerima materi dari koreo koreo dan komposer luar biasa.

Hingga hari terus berganti hari, belum diri menemukan sekelumit kekompakan di team ini. Dari awal, perintah manajer yang begitu vital terkait apa yang harus dilakukan dalam jadwal latihan selalu terdengar dahsyat dikala pagi, siang, sole dan malam hari. Runtutan jadwal selalu didengungkan disetiap sudut kegiatan.

Rasa saling peduli namun agak kejam terlihat ketika jam-jam pagi buta, waktunya bangun untuk pemanasan pagi. Seperti pada umumnya, wanita adalah sesosok alarm yang mengerikan bagi pria. Ny.Irma dan Ny.Priska untuk kali ini dinobatkan sebagai wanita yang paling rajin dan bersemangat bangun pagi untuk menggedor-gedor gerbang kemakmuran lelaki dalam lelapan tidur. Mungkin, ini hal yang terberat bagi laki-laki khususnya untuk melaluinya. Namun, disinilah letak kebersamaan, kita mencoba merubah mindset kita bahwa bangun pagi buta bukan siksaan, namun awal kenikmatan. Sungguh indah bukan?

Setelah bangun pagi dan keringat semangat pemanasan pagi, seolah-olah terasa lengkap ketika waktu sarapan tiba. Tuan Putri Yani Yangzen, begitulah kami menyebutnya. Disanalah kami melepas dahaga, melepas laparnya perut dikala memulai aktivitas kami. Mengambil nasi dan lauk sesuai hati nurani, bahkan tak heran bila ada yang nekat untuk memilih porsi kuli #istighfar.

Pekan kedua dalam karantina pun tiba, disinilah kita baru bisa merasakan apa arti dari sebuah keluarga baru. Perasaan senang, susah, semangat selalu berlalu lalang dalam benak kita, bahkan semangat yang hampir patah pun sempat  terbesit dalam pikiran. Namun, ini lah proses, semuanya tak se-uyeeee yang kita bayangkam, semuanya tak se-ihirrr  yang kita asumsikan, tergantung bagaimana kita menafsirkan. Tetapi, satu yang kita selalu merasa, semakin banyak susah yang ditanggung bersama, semakin “TAPUK” mengalir seirama. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitulah peribahasa mengatakan. Yang menjadi kunci utama kekompakan “TAPUK” adalah perasaan senasib seperjuangan. Ah, jadi ingat pemusik dan penari “MATAPUKAN” memperjuangkan peksimida. Perjuangan yang begitu sungguh luar biasa. Memperjuangkan nasih yang terkemas dalam momok EVALUSI. Ah….Teringat lagi ketika Mas BAYU dan tim memperjuangkan nasib properti topeng malam (sampai pagi) itu.

Semakin hari, semakin banyak yang menampakkan belangnya satu persatu. Yang pelor, yangubruss, yang hoax¸yang menyebalkan tingkat dewa, yang porno masya awoh (jadi inget si Huda garuk2 sesuatu)¸ yang maho, yang bencong, yang cacad, yang gombal, yang apa pun itu, tersingkaplah kedoknya satu persatu. Satu sama lain mulai saling terbuka. Saling menghujat, menghina menjadi suatu hal yang biasa, bahkan dijadikan agenda rutin oleh kita haha. “TAPUK”pun sudah mulai bisa tertawa bersama, menangis bersama, sedih bersama, gembira bersama. Inikah awal sebuah keluarga? Benar-benar sungguh indah adanya.

Tapi mengapa, tiga minggu bergulir begitu cepat rasanya. Tiga minggu berakhir ketika klimaks kekeluargaan terpaku dalam asa dan rasa. Ah… terlalu manis untuk di ingat rupanya..😉. Terima kasih “MATAPUKAN” Kalian telah menjadi moment yang indah di dalam kita berseni. Kalian telah membuat diri ini nyaman berjuang dalam kesenian ini. Begitu banyak pelajaran yang berarti dari “MATAPUAKAN” ini. Tiga minggu bersama kalian sungguh berarti. Semoga tali persaudaraan ini terus dijaga oleh-Nya dengan dilimpahi berkah dan kasih sayang-Nya. Semoga kita bisa terus saling mengingatkan dalam kebaikan

“Tak ada akhir dalam berseni. Seni itu proses dan proses itu seni. Adalah menghargai sebuah seni, jika menghargai sebuah proses”

-UKM Kesenian Jawa-2012-

 

Dan proses ini, kami dedikasikan untuk TIM “MATAPUKAN” – 2012

Mas Nur          : Sang koreo kondang produk asli indonesia😀

Mbak Tutut     : Sang koreo kondang yang lincahnya tak terdefinisikan😀

Lek Rud          : Sang komposer musik yang begitu menawan

Mas Supri        : Sang artistik berambut klasik

Mbak Senik     : Sang designer andalan sejati

Mbak Surni     : Wanita hamil yang turut mengepang rambut 7 wanita.

Tiara                : Sang Manajer yang galaknya masya awoh

Mas Bayu        : Yang semangatnya tak terkalahkan (Tau sendiri kan pas prosesi pembuatan topeng?)

Mbak Frida     : Gadis jutek berhati berlian (Sering meluruskan jalan dikala masalah datang)

Penari

Irma     : Si klasik yang mengesankan

Priska  : Gadis boja penuh kesahajaan

Raras   : Nenek glambir yang menggemaskan #fiuhh (Jadi teringat nanang musha :D)

Rensi   : Sang penguji kesabaran

Risa     : Si centil, yang pelorr-nya gak ketulungan

Hilda   : Si hitam yang menakjubkan

Indah   : Yang genit-nya berkibar diudara #Apalagi kalo udah liat ulet bulu -__-“

Pemusik

Rifky   : Bu Romlah yang suka sekali meniduri jamban haha

Sandra : Si padang yang penuh ketegaran.

Koko   : Si princess, Yang gender-nya dipertanyakan😀

Danang: Pria metroseks, yang rambutnya tak mau terkalahkan #cuiihhh

Yogi    : Tegar dalam jenggotan

Hutda  : Si glembrehh yang cacad-nya gak ketulungan

 

Perihal kjundip
Official Website UKM Kesenian Jawa Universitas Diponegoro, Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: