Kesenian Gambang Semarang: Suatu Bentuk Integrasi Budaya Jawa dan China

Artikel ini disadur dari Dewi Yuliati Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dan mmerupakan pengembangan salah satu bab dalam penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi yang berjudul Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Dalam penelitian ini penulis menjadi salah seorang anggota yang bertugas meneliti dan menulis sejarah Gambang Semarang. 

ABSTRACT

Gambang Semarang is a traditional performing art which was born and officially developed in Semarang since the third decade of the twentieth century. This performing art is one of the forms of cultural integration between the Javanese and Chinese Culture. There are controversial opinions about the origin of this performing art. Each opinion has an acceptable argument. Apart from that controversy, Gambang Semarang has been actually possesed and developed by Semarang’s people until now, so this performing art is very potential to become Semarang’s cultural identity.

I. Pendahuluan

Gambang Semarang adalah salah satu kesenian yang lahir dan berkembang di Semarang, yangmenampilkan unsur-unsur seni musik, vokal, tari dan lawak. Jika dilihat pola garapannya, GambangSemarang dapat dikategorikan sebagai kesenian tradisional kerakyatan, karena ia berkembang di kalangan rakyat jelata, telah menempuh perjalanan sejarah yang cukup lama, dan perkembangannyatetap bertumpu pada unsur-unsur seni yang telah dimilikinya sejak dulu.

Pada umumnya kesenian tradisional diartikan sebagai suatu kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang didukung oleh masyarakat setempat.1 Gambang Semarang pun lahir karenainisiatif dan dukungan masyarakat Semarang yang ingin memenuhi kebutuhannya akan kesenian.

Berdasarkan fungsinya sebagai tontonan, Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan communal support, karena selama ini biaya produksi kesenian itu selalu ditanggung oleh masyarakat penyelenggara

pertunjukan, sedangkan penontonnya adalah anggota masyarakat yang hadir tanpa membayar. Dengan kata lain Gambang Semarang hanya bermain apabila ada permintaan, dan pihak yang “nanggap” itumenanggung seluruh biaya pentas.

Gambang Semarang dipentaskan dalam berbagai event seperti perayaan tahun baru Cina di klenteng-klenteng, acara pernikahan, khitanan, karnaval “dugderan” (perayaan menyambut bulan suci Ramadhan), penyambutan turis mancanegara, pasar malam di berbagai kota, dan sebagainya. Dalamsetiap pementasan tampak ada urutan penyajian.

Urutan penampilan kesenian Gambang Semarang adalah sebagai berikut. Pertunjukan dimulai denganlagu pembukaan yang berupa instrumentalia. Lagu-lagu yang biasa disajikan untuk pembukaan adalah “Cepret Payung”, “Kicir-kicir”, “Jangkrik Genggong”, dan lagu-lagu lain. Setelah itu disajikan vokal-instrumental dengan lagu-lagu antara lain: “Awe-awe”, “Lenggang Surabaya”, “Puteri Solo”, “Aksi Kucing”, atau lagu-lagu yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang. Penyajian berikutnyaadalah tari dengan iringan lagu “Empat Penari” atau lagu-lagu yang lain . Apabila dilihat secara sepintas tari dalam seni pertunjukan Gambang Semarang tidak memiliki aturan-aturan gerak yang baku. Akan tetapi jika diperhatikan secara cermat, tari tersebut memiliki unsur-unsur gerak tari yang disebutlambeyangenjotngondek, dan ngeyek. Selanjutnya ditampilkan selingan lawak dengan tema yang disesuaikan dengan kondisi aktual. Kadang-kadang para pelawak juga menyanyikan lagu-laguyang cocok untuk dibawakan secara bersahutan seperti lagu “Jali-jali”. Syair lagunya sering diganti dengan kata-kata lucu untuk saling mengejek, menyindir, atau bermuatan kritik. Pertunjukan ini diakhiri dengan lagu-lagu penutup atau lagu-lagu yang memuat kata-kata “pamit” seperti “Walang Kekek” , “Keroncong Kemayoran”, dan “Jali-jali”.

II. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah. Dengan demikian metode yang dipergunakan adalah metode historis yaitu mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber sehingga dapat diperoleh fakta sejarah yang otentik dan kredibel. Kemudian fakta-fakta sejarah yang masih fragmentaris itu disusun dan ditulis dalam suatu kisah yang sistematis, utuh, dan komunikatif. Untuk mencapai penulisan sejarah yang demikian, diperlukan suatu penelitian yang tidak saja berdasarkan pada pertanyaan-pertanyaan pokok “apa”, “siapa”, “kapan”, dan “di mana”, tetapi juga berlandaskan pada pertanyaan-pertanyaan “bagaimana”, “mengapa”, serta “apa jadinya”. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok adalah fakta sejarah serta unsur-unsur yang turut membentuk peristiwa di tempat dan pada waktu tertentu. Jawaban terhadap pertanyaan “bagaimana” merupakan rekonstruksi yang menjadikan semua unsur itu terkait dalam suatu diskripsi yang disebut sejarah. Jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” dan “apa jadinya” akan menerangkan hubungan kausalitas.2

III. Gambang Semarang: Sarana Integrasi Budaya Jawa dan Cina

Mengungkap sejarah Gambang Semarang merupakan pekerjaan yang tidakmudah, sebab perjalanan hidupnya tidak meninggalkan jejak-jejaktertulis. Namun demikian, upaya untuk merekonstruksi sejarah Gambang Semarang masih tetap dapat dilakukan dengan metode sejarah lisan. Saksi-saksi sejaman, baik para seniman Gambang Semarang maupun orang-orangyang pernah menonton kesenian itu, masih dapat memberikan kesaksian-kesaksian. Sumber-sumber lisan tersebut mempunyai nilai yang sangat berharga bagi penulisan sejarah Gambang Semarang. Pada umumnya mereka sudah tua, sehingga terbuka kemungkinan bahwa GambangSemarang tidak akan dapat terungkap sejarahnya apabila mereka sudahtidak dapat mengingat lagi atau bahkan meninggal.

Sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Banyak orang mengatakan bahwa Gambang Semarang adalah kesenian “import” dari Betawi, karena memang dulualat-alat musiknya pernah dibeli dari Jakarta dan tidak berbeda dengan alat-alat musik GambangKromong yang terdiri atas: gambang, bonang (kromong), suling, kendang, gong, kecrek, alat gesek (sukong dan kongahian atau tehian), dan terompet.3 Akan tetapi, sebaliknya, ada suatu pernyataanbahwa kesenian Gambang Kromong justru berasal dari Semarang. Kesenian ini dibawa oleh para imigran Cina yang langsung menuju Semarang. Di sini mereka mengembangkan kesenian yang dikenal dengan Gambang Semarang.4 Masing-masing pernyataan tersebut dapat dijelaskan dengan dasar-dasar historis sebagai berikut.

Pernyataan pertama didasari oleh kenyataan bahwa pada saat kesenian Gambang Semarang dibentuksecara melembaga, alat-alat musik dan juga pelatihnya memang didatangkan dari Jakarta. Pembentukan kesenian ini tidak dapat terlepas dari peranan Lie Hoo Soen, yang pernah menjadi anggota volksraad (Dewan Rakyat) Semarang. Ia dilahirkan pada tanggal 5 April 1898 di Semarang,dan meninggal pada tahun 1986. Pada sekitar tahun 1930, ketika ia masih menjadi anggota Volksraad(Dewan Rakyat), ia pernah membicarakan dalam Dewan tentang kebutuhan Kota Semarang akan kesenian. Sebagai penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian “Krido Hartojo”, Lie Hoo Soen mempunyai gagasan untuk menciptakan kesenian khas Semarang. Gagasannya ini disampaikannya kepada walikota Semarang saat itu, Boissevain. Walikota menyetujui usulan Lie Hoo Soen, dan memerintahkannya untuk membeli alat-alat musik Gambang Kromong di Jakarta. Setelahalat-alat musik tersedia, latihan-latihan segera diadakan dan kesenian Gambang Aemarang telah dapat dipentaskan pada tahun 1932.5

Akar historis pernyataan kedua dapat dijelaskan dengan mempelajari berbagai sumber. Pada sekitartahun 1416 orang-orang Cina mendarat di Semarang. Mula-mula mereka mendarat di Banten, kemudian berpencar ke tempat-tempat lain seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Buyaran, dan Semarang. Orang Cina yang datang pertama kali di Semarang ialah Sam Po Tay Djin. Di sini iameninggalkan suatu monumen terkenal “Klenteng Gedong Batu”. Daerah di sekitar “Klenteng GedongBatu” ini merupakan tempat pemukiman orang-orang Cina yang pertama di Semarang.6 Sam Po adalah seorang pelaut, yang diperintahkan oleh kaisar dinasti Ming, Bing Sing Tjouw, untuk mengunjungi dan menaklukkan berbagai negeri di daerah Pasific sampai ke Arabia. Ketika mereka berlayar di sepanjang pantai utara pulau Jawa, seorang pembantu Sam Po, Ong King Hong, menderita sakit. Oleh karena itu, Sam Po memerintahkan agar kapalnya berlabuh dulu di sebuah tanjung, yang kini menjadi pelabuhan Semarang. Setelah itu mereka berlayar ke pedalaman dengan menyelusuri Kali Garang. Dalam pelayaran itu, tidak jauh dari pantai, mereka menemukan sebuah gua yang kemudian dijadikan persinggahan oleh Sam Po. Para pengikut Sam Po membangun sebuah rumah kecil untuk si sakit Ong King Hong. Sam Po memberikan obat-obatan kepada Ong King Hong. Setelah Ong King Hong sembuh, Sam Po melanjutkan perjalanannya, sedangkan Ong King Hong memilih untuk tinggal di daerah itu bersama dengan 10 orang pengikut, sebuah kapal, dan dengan perbekalan yang cukup banyak.

Setelah merasa sehat dan kuat, Ong King Hong menyuruh para pengikutnya untuk membersihkan lingkungan, menanam tanaman-tanaman, dan membangun rumah. Ong King Hong tidak kembali ke negeri Cina, tetapi ia dan para pengikutnya melakukan pelayaran perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa. Para pengikutnya mengambil istri orang-orang Indonesia, dan daerah itu berkembang menjadi tempat yang ramai dan subur.

Seperti Sam Po, Ong King Hong adalah seorang Muslim yang taat, dan ia pun mengajarkan moral, kebenaran, serta praktik-praktik agama Islam kepada para pengikutnya. Ia juga mendorong para pengikutnya untuk mencapai prestasi tinggi seperti Sam Po. Ia memiliki patung kecil Sam Po yang diletakkannya dalam gua, dan ia menyuruh para pengikutnya untuk memujanya pada hari-hari tertentu. Ong King Hong meninggal pada usia 87 tahun, dan dimakamkan secara muslim. Di kalangan orang Jawa, Ong King Hong dikenal dengan sebutan Kiai Juru Mudi Dampo Awang, dan makamnya diziarahi baik oleh orang Jawa maupun Cina pada hari-hari tertentu dalam tahun Jawa. Sam Po juga mendapatnama penghormatan, yaitu Sam Po Tay Jin, yang berarti Sam Po yang besar. Pada hari-hari tertentu dalam tahun Cina, patung Sam Po juga diziarahi oleh orang-orang Cina.7 Dalam perkembangan, petilasan Sam Po dan makam Ong King Hong ini terkenal dengan sebutan klenteng Gedong Batu.Setelah berakhirnya perang antara Cina dan kompeni Belanda di Semarang yang berlangsung pada tanggal 14 Juni – 13 Nopember 1741, atas perintah kompeni, masyarakat Cina di daerah Gedong Batu harus pindah ke tempat yang sudah ditentukan yakni Kampung Pecinan.8

Menurut sumber lain, sebelum itu ternyata sudah ada masyarakat Cina di Semarang. Hal ini dapat dilihat pada Catatan Tahunan Semarang dan Cirebon yang memberitakan bahwa pada tahun 1413 armada Tiongkok Dinasti Ming singgah di Semarang selama satu bulan untuk perbaikan kapal. Laksmana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Feh Tsin sering melakukan sholat di masjid Tionghoa Hanafi di Semarang.9

Pada akhir abad ke-17 Semarang menjadi salah satu tujuan para imigran Cina, di samping Batavia dan Surabaya. Kehadiran orang-orang Cina di wilayah Indonesia pada akhir abad ke-17 didorong oleh dua faktor penting yaitu jatuhnya dinasti Ming (1368-1644) serta dibukanya kembali perdagangan antara Cina dan wilayah Asia Tenggara pada tahun 1683. Para imigran tersebut berasal dari daerah-daerah pantai bagian Selatan daratan Cina yaitu Amoy, Kanton, dan Makao, dan banyak di antara merekamenemukan jalan ke Semarang. Ong Tae-Hae, seorang Cina yang berasal dari Fukien, yang pernah tinggal di Indonesia (1783-1791), mengatakan bahwa di Batavia terdapat sebuah gedung yang dikenalsebagai “Loji Semarang”. Para pendatang Cina, yang ingin meneruskan perjalanan mereka ke JawaTengah, akan menginap di gedung itu sampai mereka mendapatkan perahu-perahu yang dapatmengangkut mereka ke Semarang.10 Sebagian besar masyarakat Cina di Semarang menghuni daerah perkotaan dan mereka membaurkan diri dalam kebudayaan Jawa.11

Ong Tae-hae juga memberikan gambaran tentang keinginan orang-orang Cina untuk membaur dalammasyarakat Jawa sebagai berikut. Orang-orang Cina yang menetap di perantauan selama beberapa keturunan dan tanpa pernah kembali ke negeri asal mereka, sering mencontoh bahasa, makanan, dan pakaian penduduk asli dan belajar Al Qur’an. Mereka tidak merasa enggan untuk menjadi orang Jawa,ketika mereka telah menjadi pemeluk agama Islam. Mereka tidak memakan daging babi, dan berasimilasi dengan adat-istiadat penduduk asli. Dalam perjalanan waktu, pemerintah kolonial Belanda menempatkan mereka di bawah pengawasan seorang kapten (seorang Kapitan Cina Peranakan).12

Suatu saluran pembauran yang penting adalah perkawinan antara para pedagang Cina dan kalangan bangsawan Jawa, karena dengan perkawinan itu, mereka dapat memperoleh kedudukan tinggi dalampemerintahan.13 Perkawinan antara pendatang Cina dan perempuan Jawa sangat mungkin terjadi, karena pada umumnya mereka yang pergi merantau adalah orang laki-laki saja. Hal Ini dapat terjadi,sebab adat Cina pada saat itu melarang kaum wanita keluar dari halaman rumah, apalagi pergi jauh. Dengan demikian banyak imigran Cina menikah dengan wanita pribumi, yang kemudian dapat memasukkan kebiasaan-kebiasaan pribumi dalam keluarganya seperti memakai kain dan baju kurungpanjang, memotong gigi, memakan sirih, jongkok-menyembah dan sebagainya.14

Dalam hal berkesenian, juga terjadi asimilasi. Kondisi ini dapat dilihat antara lain pada saat masyarakat Cina di Semarang merayakan terbentuknya Republik Cina pada tahun 1911. Perayaan diselenggarakan di pemukiman Cina, yang tidak hanya dimeriahkan dengan orkes, tetapi juga dengan gamelan.15 Dulu masyarakat Cina di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai kesenian tersendiriyang dinamakan orkes “pat-iem”. Kesenian ini dimainkan terutama di pemakaman Cina. Anehnya,seluruh pemain orkes tersebut adalah orang Jawa.16 Kwa Tong Hay, seorang Cina Semarang,menuturkan bahwa alat-alat musik “pat-iem” terdiri alat alat petik, gesek, dan alat tiup yang berupa terompet kecil.17

Jika diamati, dalam kesenian Gambang Semarang juga terdapat perpaduan antara unsur budaya Cina dan Jawa. Alat-alat musiknya terdiri atas instrumen Cina (kongahian , shu kong, kecrek, dan suling) daninstrumen Jawa (bonang, gambang, dan gong). Dulu para penari dan penyanyi wanita (kebanyakanorang Cina) memakai kain sarung batik “Semarangan”, kebaya “encim” (terbuat dari kain polos yang dibordir pada bagian pergelangan tangan dan sudut-sudut bagian depan), serta gelung konde. Padamulanya para pemain musiknya terdiri dari orang-orang Jawa dan Cina. Banyak lagu yang didendangkan berirama mandarin, di samping lagu-lagu keroncong.

Sebelum Gambang Semarang dilembagakan sebagai suatu perkumpulan kesenian di Semarang, adakemungkinan bahwa kesenian tersebut merupakan kesenian “kelilingan” (dalam bahasa Jawa “mbarang”). Hal ini dapat disimak dari penuturan Soengkono (berusia 74 tahun, tinggal di Jalan Menteri Supeno Selatan 1115 D Semarang). Pada sekitar tahun 1930 Soengkono pernah menyaksikan pentas kesenian yang alat-alat musiknya terdiri atas gambang, terompet kecil, kencreng, dan alat musikgesek. Pentas yang paling mengesankan baginya adalah pentas di taman Balai Kambang, milik pribadiseorang pengusaha kaya Oei Tiong Ham, yang terletak di Gergaji. Setahun sekali, dalam rangka menyambut hari lebaran, Oei Tiong Ham membuka taman Balai Kambang untuk dikunjungi segenap lapisan masyarakat. Kesenian tersebut pernah pentas di Balai Kambang untuk merayakan hari lebaran.Selain di Balai Kambang, kesenian ini juga pernah pentas di makam Cina “Bong Bunder” (di belakang SMU Negeri I Semarang) dan di klenteng-klenteng. Ternyata, pentas kesenian tersebut dapat menarikperhatian masyarakat dari berbagai daerah lain seperti: Cirebon, Betawi, Surabaya, Kudus, Rembang, Pekalongan dan sebagainya. Soengkono menggambarkan kesenian itu bernuansa Cina dan Jawa. Suaragambang dan tiupan terompet serta bunyi kencreng merupakan perpaduan suara musik Jawa dan Cina. Nuansa Cina dan Jawa dalam kesenian tersebut juga dapat dilihat pada busana yang dipakai oleh penyanyi dan penari yaitu kebaya bordir dan sarung pesisiran. Soengkono mengatakan bahwa kesenianitu dikenal dengan Gambang Semarang.18 Sumber-sumber tersebut di atas dapat memperkuat dugaan bahwa Gambang Semarang yang dikoordinasi oleh Lie Hoo Soen merupakan suatu bentuk pengembangan kesenian yang pernah ada sebelumnya di kota Semarang.

Perpaduan antara unsur-unsur seni Cina dan Jawa dalam Gambang Semarang merupakan salah satugambaran bahwa di kalangan masyarakat Semarang telah terjadi proses asimilasi atau integrasi antara unsur-unsur budaya pribumi dan budaya Cina. Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri dan sampai kini juga masih dibutuhkan serta diperhatikan oleh banyuak pihak di Semarang. Lagi pula,Gambang Semarang terus mengalami pengembangan sesuai dengan selera masyarakat Semarang.Sebagai contoh, lagu-lagu yang disajikan tidak hanya lagu-lagu Betawi, tetapi juga lagu-lagu khas Gambang Semarang seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Aksi Kucing”. Di samping itu juga ditampilkan lagu-lagu khas Jawa Tengah: “Jangkrik Genggong”, “Walang Kekek”, dan lagu-lagu kroncong.

Prakarsa Lie Hoo Soen untuk mengembangkan Gambang Semarang pada tahun 1930-an , yang mengikutsertakan baik orang Cina maupun pribumi merupakan suatu gejala, bahwa ketika itu telah tumbuh semangat integratif, dan kesenian ini dapat menampung semangat itu secara baik. Dalam berkesenian harus selalu ada kerjasama dan komunikasi yang bagus agar dapat dihasilkan produk yang baik pula. Kesenian ini terus dikembangkan dalam suasana integratif, dan pengembangannya dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat di Kota Semarang yang meliputi perorangan, pemerintah, perhotelan, dan juga kalangan perguruan tinggi.

Pada saat Lie Hoe Soen ingin membentuk perkumpulan kesenian di Semarang, di kota ini memang sudah ada orang-orang yang potensial untuk menyelenggarakan kesenian tersebut yakni Mak Irah dan Mak Royom (kakak Mak Irah). Mereka adalah orang-orang pribumi yang berasal dari Ciputat, Jakarta. Sebelum pindah ke Semarang, di Jakarta mereka berkarya sebagai seniwati Gambang Kromong. Sebagaimana dikisahkan oleh Jayadi (keponakan Mak Irah) , Mak Irah memutuskan untuk merantau ke kota lain bersama Mak Royom, karena ia mengalami kekecewaan dalam hidup perkawinannya. Oleh orang tuanya Mak Irah dijodohkan dengan seorang Cina yang telah lanjut usia. Dari perkawinannya itu Mak Irah memperoleh nama Cina “Oei Cing Moi”. Pada saat itu di Jakarta, khususnya di kalangan seniman Gambang Kromong, para penyanyi (Tjio Kek) pribumi diberi nama Cina yang diambil dari nama-nama bunga indah seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Bouw Tan dan sebagainya.19 Setelahmempunyai seorang anak, ternyata Mak Irah tidak sanggup lagi untuk mempertahankanrumahtangganya, dan akhirnya ia meninggalkan suaminya. Ada kemungkinan bahwa pada saat itu di Semarang sudah berkembang suatu kesenian yang serupa dengan Gambang Kromong di Jakarta, sehingga Mak Irah dan Mak Royom dapat bergabung dalam kesenian itu. Setelah menyaksikankemahiran Mak Irah dalam menari, pada suatu hari Lie Hoo Soen menjumpai Mak Irah untuk membicarakan kemungkinan mengadakan pertunjukan Gambang Kromong di Semarang. Pertunjukanini dimaksudkan terutama untuk merayakan hari besar di klenteng- klenteng. Mengingat pada waktu itu di Semarang belum ada pemain musik Gambang Kromong, Mak Irah pergi kembali ke Ciputat Jakartauntuk menemui adiknya, Subadi, seorang seniman Gambang Kromong. Bagi Mak Irah, kesempatanyang ditawarkan oleh Lie Hoo Soen merupakan keberuntungan, karena di Ciputat yang merupakan basis Islam Muhammadiyah masyarakatnya kurang menyukai kesenian Gambang Kromong. Atas dasar pertimbangan bahwa Semarang lebih memungkinkan untuk hidup dengan bekal keahlian kesenianGambang Kromong, Mak Irah mengajak Subadi untuk pindah ke Semarang. Subadi adalah pemain Gambang Kromong yang serba bisa. Selain dapat memainkan seluruh alat musik dalam kesenian itu, khususnya alat gesek (sukong, kongahian, tehian dan yana), Subadi juga bisa menyanyi dan melawak.Akhirnya, tiga bersaudara itu memutuskan untuk tinggal di Semarang dan berkarya sebagai seniman dalam grup kesenian yang dibina oleh Lie Hoo Soen.20 Oleh karena pada saat itu di Semarang belumbanyak orang yang mahir dalam kesenian Gambang Kromong, Subadi diminta oleh Lie Hoo Soen untuk melatih para pemain musik dalam kesenian yang dipimpinnya yaitu: Tan Hok Gie (pemain kromong),Nyo Ping Liong (pemain kendang), Liem Han Hing (pemain Gong), Mintoni ( pemain sukong), Oei Tek Bie (pemain gim), Oei Tiong Oen (pemain biola), Untung (pemain suling), Lim Tik No (pemain samhian),Poei Tjo Dwan (pemain kongahyan), Tjiam Bok Swie (pelatih, pemain gambang). Dalam perkembangan, kesenian yang diorganisasi oleh Lie Hoo Soen ini dikenal dengan Gambang Semarang. Kesenian ini tidak hanya tersohor di Semarang, tetapi juga di kota-kota lain, terutama pada saat diselenggarakan pasar malam. Beberapa kota yang pernah mengundang kesenian Gambang Semarang untukmeramaikan pasar malam adalah Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Betapa terkenal kesenian ini, sehingga pada tahun 1940 tercipta suatulagu dengan judul “Empat Penari”. Lagu tersebut tercipta atas kerja sama antara Oei Yok Siang, pembuat lagu, dan Sidik Pramono, penulis syair lagu. Kedua seniman ini bertempat-tinggal di Magelang. Sidik Pramono adalah pemain orkes Perindu di Magelang. Pada tahun yang sama lagu “Gambang Semarang” telah disiarkan pertama kali oleh orkes Perindu di studio Laskar Rakyat Magelang denganbiduanita Nyi Ertinah.21 Berikut ini ditampilkan syair lagu tersebut secara lengkap:

Empat penari, kian kemari

jalan berlenggang, aduh ………..

sungguh jenaka menurut suara

Irama Gambang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang

Bersuka ria, gelak tertawa

Semua orang, karena ……………

Hati tertarik grak grik

si tukang kendang

Sambil menyanyi, jongkok berdiri

kaki melintang, aduh …………..

langkah gayanya menurut suara

Gambang Semarang.

Syair lagu tersebut dapat dipahami sebagai suatu kesaksian dan ekspresi perasaan terkesan akan nilaiestetis yang ditampilkan oleh kesenian Gambang Semarang. Di samping lagu “Empat Penari”, Oei Yok Siang juga menciptakan lagu-lagu lain yang cocok dengan iringan musik Gambang Semarang seperti“Aksi Kucing” dan “Impian Semalam”.

Penari-penari tempo dulu yang sangat terkenal adalah Mak Irah (periode tahun 1930-an sampai dengan tahun 1940-an) dan nyonya Sam (periode tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an). Jika Mak Irahterkenal dengan kecantikannya, nyonya Sam sangat dikagumi karena berpinggul besar dengan gerakan-gerakan pinggulnya ngondek, dan ngeyek. Dengan wajah yang cantik, tubuh yang bagus, dan suara yang merdu, Nyonya Sam terkenal sebagai primadona Gambang Semarang. Jika nyonya Sam pentas, pengunjung berdatangan dari berbagai tempat untuk menyaksikan sang primadona itu.

Suatu kenangan akan keindahan Gambang Semarang juga dinyatakan oleh Hartono, seorang senimanlukis kelahiran Surakarta. Ketika masih remaja, pada tahun 1940 Hartono pernah menyaksikanpertunjukan Gambang Semarang di Taman Sriwedari Surakarta untuk merayakan Idul Fitri. Penampilanempat penari yang diiringi lagu Gambang Semarang merupakan puncak pertunjukan tersebut. Ternyata para penari dengan gerakan goyang pinggul mampu mengundang tepuk tangan masyarakat Surakartayang berselera halus. Lagu Gambang Semarang yang bernuansa Jawa-Mandarin, sejak saat itu,dinyanyikan juga oleh para seniman di Surakarta. Lebih lanjut Hartono menceriterakan bahwa pada tahun 1949 ia juga pernah menonton Gambang Semarang di Kampung Senjoyo Semarang dalam suatu pesta perkawinan. Menurutnya ada suatu atraksi yang sangat lucu dalam pertunjukan tersebut. Pelawaklaki-laki, yang mengenakan sarung batik “semarangan”, mencengkal bagian depan sarungnya, sehingga ketika ia bergoyang bersama penari, “cengkal” tersebut menggambarkan alat vitalnya.22

Dengan memperhatikan kisah Hartono ini muncul suatu dugaan bahwa dulu penciptaan gerak-gerak taridalam kesenian Gambang Semarang telah diilhami oleh suatu sense erotis yang tersirat dalam suatu nyanyian Cina yang populer pada saat itu yaitu “Sipatmo”. Nyanyian ini juga merupakan salah satu lagu dalam kesenian Gambang Kromong di Jakarta.23 “Sipatmo” berarti delapanbelas rabaan yangmerupakan gerakan-gerakan manusia ketika melakukan persetubuhan.24 Makna “Sipatmo” ini dapatdiduga mempengaruhi gerak-gerak tari dalam kesenian Gambang Semarang. Gan Kok Hwi, seorang Cina Semarang yang pernah menyaksikan Gambang Semarang pada tahun 1960-an, menuturkan bahwa dalam pertunjukan tersebut ditampilkan sebuah lagu Cina yang dinyanyikan dengan gerak-gerakerotis. Gerakan dari jongkok sampai berdiri dengan gerak tangan yang “usap-mengusap” sering dapat mengundang penonton naik panggung untuk ikut menari.25 Gerakan erotis ini menjadi ciri primadonaGambang Semarang periode tahun 1950-an Nyonya Ong Sam Nio (Nyonya Sam) . Masyarakat penikmat Gambang Semarang masa itu sangat terkesan akan gerakan erotis nyonya Sam, sehingga muncul suatu sebutan untuknya “egolane serrr, kayak lele”.26 Menurut Tutik, mantan penari GambangSemarang, penari-penari lain yang sejaman dengan nyonya Sam yaitu Cik Swan, Cik Ling, dan Sus Mi. Tutik mengaku bahwa ia tertarik ikut menjadi penari dalam kesenian itu karena ia pernah menonton nyonya Sam menari. Menurutnya gerak tari nyonya Sam terasa enak untuk dipraktikkan.27

Pada tahun 1942, ketika Gambang Semarang pentas di arena Pasar Malam Magelang, terjadipertempuran dengan Jepang. Para pemain Gambang Semarang menyelamatkan diri dan peralatanmusiknya ditinggalkan begitu saja, sehingga hilang. Mak Royom pun tidak diketahui nasibnya. Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal, tidak seorang pun mengetahuinya. Dengan terjadinya peristiwa itu Gambang Semarang bubar, dan selama beberapa tahun tidak ada pentas. Walaupun telah terjadi peristiwa yang menyeraiberaikan para pemain Gambang Semarang serta memusnahkan peralatan musiknya, ternyata kecintaan orang Semarang terhadap kesenian tersebut tidak pernah hilang. Hal ini terbukti pada tahun 1949 muncul lagi seorang pemerhati Gambang Semarang yang bernama The LianKian, bertempat tinggal di Kampung Seong Semarang. Karena alat-alat musik Gambang Semarang sudah hilang, ia membeli instrumen Gambang Kromong di Betawi. Subadi masih tetap diminta untukmelatih para pemain musik kesenian ini. Akan tetapi, The Lian Kian tidak bertahan lama dalam mengelola Gambang Semarang, karena ia kalah judi. Pengelolaan Gambang Semarang dilanjutkan oleh Yauw Tia Boen (lebih dikenal dengan panggilan “Cik Boen”), yang juga bertempat tinggal di Kampung Seong. Di samping Gambang Semarang, Cik Boen juga mengkoordinasi perkumpulan musik “IramaIndonesia” yang menyajikan berbagai warna musik seperti jaz, keroncong, dangdut, dan lagu Barat.Ketika dikelola oleh Cik Boen, Gambang Semarang mengalami inovasi dalam berbagai unsur seninya. Alat-alat musiknya dilengkapi dengan bass, saxofon, klarinet, orkes keroncong, alat musik tiup, dandrum. Dengan demikian nyanyiannya juga ikut berkembang. Pada saat itu dalam kesenian GambangSemarang dinyanyikan juga lagu-lagu Barat.28 (wawancara dengan Jayadi, tanggal 13 Maret 1998). Cik Boen juga merekrut para seniman waria yang pandai menyanyi dan menari seperti: Heny, Emy, Farida,dan Wiwik. Penyanyi dan penari yang lain adalah Nungki, Tutik, Mulyati, Sus Min, dan Rukmini. Cik Boen tidak hanya berperan sebagai pengelola kesenian ini, tetapi ternyata ia juga dapat memainkan alat musik kromong. Bahkan ia juga pandai melawak dan menari. Lawakan dan tariannya disampaikan secara spontan. Pemain musik lainnya adalah antara lain Noto dan Pahing. Para penari GambangSemarang pada saat itu sering menari dan berkostum dengan gaya India, karena pada saat itu film-filmIndia sedang populer, sehingga mempengaruhi penampilan mereka. Pada saat itu Gambang Semarang sering dipentaskan di klenteng-klenteng: Gang Lombok, Gang Baru, Bon Lancung dan lain-lain. Di samping itu kesenian ini juga sering dipentaskan untuk memeriahkan pasar malam di Tegal Wareng Semarang.29 Kepemimpinan Cik Boen dalam kesenian Gambang Semarang harus berakhir, ketika ia menjadi melarat karena hampir seluruh hartanya digunakan untuk mengurusi kesenian ini. Bahkan pada awal tahun 1960-an ia meninggal.30 Setelah Cik Boen meninggal, Gambang Semarang juga mengalami masa suram selama lebih kurang 10 tahun.

Pada tahun 1972 Noto, seniman Gambang Semarang dari masa Cik Boen, ingin menghidupkan kembali kesenian ini. Dengan dana yang relatif kecil ia dapat mengadakan peralatan musik. Tentu saja dengan dana yang relatif kecil itu, kualitas bahan-bahannya juga kurang bagus . Gambang dibuat dari kayu sengon sehingga tidak berbunyi keras. Walaupun begitu Noto dan grupnya pernah diminta untuk pentas di hotel Patra Jasa Semarang pada tahun 1974. Penari dan penyanyi yang terkenal pada saat itu adalah Tuti Yuliati dan Istinah Amin.

Pada sekitar tahun 1970-an dan 1980-an perhatian terhadap kesenian Gambang Semarang muncul dariberbagai kalangan, baik secara individual maupun kelompok. Pada tahun 1972 mulai muncul perhatianyang bukan berasal dari masyarakat umum, tetapi dari pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat IISemarang. Pada saat itu Walikota Semarang, Hadijanto, menugaskan kepada Iman Prakoso, Kabin. Kebudayaan Kotamadya Semarang, untuk menghidupkan kembali kesenian Gambang Semarang. ImanPrakoso menolak tugas tersebut, dengan alasan bahwa Gambang Semarang bukan kesenian asli Semarang. Karena Iman Prakoso tidak bersedia menjalankan tugas tersebut, kemudian Walikota menugaskan Thukul, Kepala Bidang Sarparlu. Pelaksanaan tugas ini dilimpahkan kepada Sekolah Dasar“Kartini”. Pengelolaannya dipimpin oleh Soesman, guru sekolah dasar tersebut. Para pesertanya direkrut dari guru-guru sekolah dasar di Kotamadya Semarang. Namun ternyata setelah kesenian tersebut dipentaskan, justru menjadi bahan perdebatan yang ramai di DPRD Semarang. Pada saat itu suasana masih sangat sensitif terhadap kebebasan pergaulan antara pria dan wanita. Padahal, ketika itu tarian Gambang Semarang diciptakan berpasangan dan bergandengan tangan antara pria dan wanita.Oleh sebab itu DPRD menolaknya, dan Gambang Semarang sekolah dasar “Kartini” bubar. Peralatannya masih disimpan di sekolah dasar tersebut.31

Salah seorang anggota masyarakat Semarang yang lain, Bah Kalud, juga berpartisipasi dalam kancahpelestarian kesenian Gambang Semarang. Pada tahun 1976 Bah Kalud meminta Jayadi, seniman Gambang Semarang, untuk membeli peralatan musik di Ciputat Jakarta. Akan tetapi kemudianperalatan musik tersebut dibeli oleh Jayadi sendiri, dan Bah Kalud membuat instrument musik lagi yang kemudian dijual kepada Thio Tiong Gie (pengurus Klenteng Gang Lombok). Setelah memiliki peralatanmusik, Thio Tiong Gie mendirikan Paguyuban “Gambang Semarang”. Organisasi ini mendapatpengesahan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah tertanggal 26 Juli 1979 dengan kategori kesenian rakyat. Beberapa pemain musik dalam kelompok kesenian ini yaitu Subadi, Jayadi, Noto, Min, Yatin, dan Yuri. Upaya Tio Thiong Gie dalam mengembangan Gambang Semarang telah membuahkan hasil yang cukup membanggakan. Paguyuban kesenian yang dipimpinnya itu telah memperoleh beberapa tanda penghargaan. Penghargaan pertamadiperoleh dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Jawa Tengah dalamrangka Festival Pertunjukan Rakyat Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Nopember 1980. Penghargaan yang lain didapatkan dari Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dalam rangka penyelenggaraan Karnaval Dugderan pada tahun 1992.

Pada tahun 1985 Grup “Aktifitas Seniman Remaja” (ASR), di bawah pimpinan Burhanuddin, membentuk “Gambang Remaja”. Pelatihnya adalah seniman Gambang Semarang “kawakan” Jayadi (pemainkromong) dan Juri (pemain suling). Dalam grup ini peralatan musik Gambang Semarang ditambah dengan siter, dan juga dilengkapi dengan organ. “Gambang Remaja” sering dipentaskan untukmenyambut turis di pelabuhan Semarang. Selain itu ASR juga pernah mementaskan opera “Ande-ande Lumut” dengan iringan musik Gambang Semarang di Gedung Olah Raga Simpang Lima Semarang. Penonton pertunjukan ini harus membayar dengan membeli tiket, dan jumlah penontonnya cukup banyak. Pengemasan tari dan busana “Gambang Remaja” ditangani oleh Asri Meiati, pimpinan Sanggar “Asri Budaya”. Pengemasan tersebut dibuat atas persetujuan Iman Prakoso, Kepala Bidang Kebudayaan Kotamadya Semarang pada saat itu.32

Tidak lama setelah “Gambang Remaja” terbentuk, pada tahun 1986 seorang budayawan Semarang, Amen Budiman, juga mendirikan perkumpulan Gambang Semarang “Kembang Goyang”. Pelatih danpemainnya diambil dari paguyuban “Gambang Semarang” di Klenteng Gang Lombok. Menurut Sayekti, penyanyi dalam perkumpulan “Kembang Goyang”, kesenian yang dipimpin oleh Amen Budiman ini dipentaskan untuk berbagai acara yaitu pameran masakan Semarang, pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan acara menyambut tahun baru.33 Menjelang Amen Budiman wafat (1995), peralatan musiknya dijual kepada Hotel Graha Santika Semarang. Pada hari-hari tertentu hotel tersebut menyajikan Gambang Semarang untuk menghibur tamu-tamunya.

Pada tahun 1990-an kalangan pemerhati kesenian Gambang Semarang menjadi semakin luas. Masalah yang menjadi pusat perhatian dan pemikiran tidak saja mengenai masalah pengembangannya, tetapijuga menyangkut soal pencarian kesepakatan untuk mengakuinya sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Usaha-usaha dan diskusi tentang hal ini muncul dari berbagai lembaga yang terkaitseperti Dinas Pariwisata, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan beberapa Perguruan Tinggi. Usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang untuk mengembangkanGambang Semarang terus berlanjut sampai dengan dekade 1990-an. Hal ini dapat dibuktikan denganmelihat karya Agus Supriyanto, seorang staf Seksi Kebudayaan di instansi tersebut. Atas dorongan Iman Prakoso, yang ketika itu masih menjabat sebagai Kasi Kebudayaan, Agus Supriyanto mencipta tari Gado-gado Semarang dengan iringan musik Gambang Semarang. Lagu “Gado-gado Semarang”dicipta oleh Kelly Puspita atas permintaan Hadiyanto, walikota Semarang periode tahun 1970-an.34Menurut Agus Supriyanto lagu “Gado-gado Semarang” dipilih sebagai dasar penciptaan dan iringan tari yang diciptakannya karena syair lagu tersebut mencerminkan identitas Semarang. Semula tari ini hanya dilakukan oleh wanita, tetapi kemudian dikembangkan menjadi tari pasangan antara pria dan wanita, yang dimaksudkan sebagai tari pergaulan. Tari tersebut menampakkan gerak-gerak erotis yangmenonjolkan gerakan payudara dan pantat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Semarang telah memasyarakatkan tari Gado-gado Semarang melalui jalur pendidikan formal. Di sekolah-sekolah SMP dan SMU di Kotamadya Semarang diajarkan tarian tersebut. Sebelum itu guru-guru tari di Kotamadya Semarang mendapat penataran dengan materi tarian tersebut. Kemudian juga diadakan lomba tari Semarangan antarsiswa SMP dan SMU di Kotamadya Semarang. Tarian ini jugapernah diikutsertakan dalam festival kesenian tingkat Jawa Tengah dan dipentaskan di Taman MiniIndonesia Indah untuk mewakili Kotamadya Semarang.

Pada awal tahun 1990 IKIP Negeri Semarang juga muncul dalam wacana pengembangan Gambang Semarang. Bintang, seorang sarjana seni tari yang mengajar di Institut tersebut, telah menciptakan tari yang diiringi dengan musik serta lagu Gambang Semarang dan diberi nama tari “Denok”. Penciptaan tari ini berdasar pada unsur-unsur gerak tari “jalan ngondek”, “jalan ngeyek”, dan “jalan tepak”. Di samping itu juga dimasukkan unsur-unsur gerak tari Jawa. Busananya juga dibuat seperti busana yangdipakai dalam Gambang Semarang yaitu kebaya encim dan kain pesisiran. Denok adalah suatu panggilan untuk anak gadis Semarang. Tarian ini menggambarkan kelincahan gadis-gadis Semarang, dan dapat ditarikan secara masal atau tunggal.35

Fakultas Sastra Universitas Diponegoro adalah salah satu lembaga yang ikut berperanan dalampengembangan kesenian ini. Langkah awal yang dilakukannya adalah mengadakan pameran budaya “Semarangan” dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro pada tahun 1993. Dalam event tersebut dipamerkan antara lain peralatan musik Gambang Semarang dan masakan “Semarangan”. Upaya pengembangan terus dilanjutkan dengan mengadakan sarasehan tentang “Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Gambang Semarang” pada tanggal 20 Januari 1994. Dari sarasehan tersebut diperoleh kesepakatan bahwa Gambang Semarang perlu dilestarikan dan dikembangkan karenakesenian tersebut mempunyai nilai penting sebagai aset wisata, aset ekonomi, dan juga sebagai salahsatu identitas budaya kota Semarang. Masalah yang muncul adalah apakah masyarakat Semarangmasih menggemari kesenian ini, dan apakah mereka dapat menerima kesenian tersebut sebagai salah satu identitas kota Semarang. Hasil sarasehan ini terus menjadi bahan pemikiran Fakultas SastraUniversitas Diponegoro, sehingga akhirnya diputuskan untuk dibawa ke forum lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 1994. Pada intinya lokakarya tersebut membicarakan langkah-langkah untuk mengembangkan seluruh aspek seni Gambang Semarang yang meliputi seni tari, musik, nyanyian, lawak, busana, dan dialek.

Usaha pengembangan Gambang Semarang terus dilanjutkan dengan cara menerapkan hasil lokakaryatersebut dalam kegiatan pelatihan Gambang Semarang bagi mahasiswa, dosen, dan karyawan FakultasSastra Universitas Diponegoro. Instansi ini telah memiliki peralatan musik sendiri yang dibeli dari Jayadi, dan seniman ini bersama rekannya Yuri diminta untuk melatih. Dalam pelatihan itu semua aspek seni digarap dan dikembangkan berdasarkan unsur-unsur seni yang telah dimiliki oleh kesenian ini.

Pengembangan tari didasarkan pada gerak-gerak khasnya yaitu genjot, lambeyan, ngondek, dan ngeyek, serta diperkaya dengan unsur-unsur gerak tari Jawa, Sunda, dan Bali. Hal itu mengingatkenyataan bahwa masyarakat Semarang memang bersifat heterogen, terdiri dari berbagai sukubangsa. Selain itu, penggarapan tari juga didasarkan pada kondisi geografis Semarang yang merupakan daerah pantai, sehingga dibuat gerak-gerak tari yang menggambarkan deburan ombak dengan ditandai suara kendang yang bertalu-talu. Musiknya juga dikembangkan dengan cara menambahkan alat musik siter serta diciptakan lagu-lagu baru seperti “Goyang Semarang”, “LenggangSemarang”, dan “Tigapuluh Tahun Fakultas Sastra”. Lagu “Goyang Semarang” dapat dinyanyikan dalamrangka lawak, karena lagu tersebut dapat dibawakan secara bersahutan dan dibuka dengan irama “rap”yang syairnya dapat disesuaikan dengan kondisi aktual pada saat pertunjukan. Selain itu juga disajikanlagu-lagu Barat, Dang- Dut, keroncong, dan tembang-tembang Jawa.

Busana penari mendapat penggarapan dan pengembangan selaras dengan model busana pesisiran. Kebaya dibuat dari bahan polos dengan hiasan bordir pada seluruh bagian tepinya, dan ujung depan kebaya dibuat meruncing ke bawah. Kain yang digunakan adalah kain batik pesisiran dan dilengkapidengan “sonder” sebagai pemanis busana tari. Sanggul penari digarap dengan cara memadukan unsur-unsur sanggul Jawa, Eropa, dan Cina.

Seni lawak juga mendapat penggarapan yang cukup penting dalam rangka pengembangan Gambang Semarang sebagai salah satu identitas budaya kota Semarang. Salah satu unsur budaya Semarangyang dapat diidentifikasi secara mudah adalah dialek. Oleh karena itu, dalam bagian lawak dimasukkandialek Semarang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat menampilkan identitas Semarang.

Gambang Semarang Fakultas Sastra UNDIP ini telah dipentaskan dalam berbagai acara: perayaan lustrum Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Dies Natalis Universitas Diponegoro, penyambutan turis dari Amerika di Kota Lama, pembukaan pameran pembangunan di Taman Budaya Raden Saleh, penyambutan Duta Besar Australi di Hotel Patra Jasa, “Talkshow” Kepariwisataan di Hotel Grand Candi,penyuluhan guru-guru SMP di kotamadya Semarang dan lain-lain.

Untuk mengembangkan kesenian Gambang Semarang, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro telah menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga lain yaitu Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang, Dewan Kesenian Jawa Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, harian SuaraMerdeka, Akademi Pariwisata, dan Hotel Graha Santika.

Kepedulian masyarakat Semarang untuk mengembangkan Gambang Semarang merupakan suatu buktibahwa kesenian tersebut tetap memiliki masyarakat pendukung. Oleh karena itu, suatu hal yang perludipikirkan dan direalisasikan adalah penyediaan cultural apparatus, yaitu organisasi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan budaya.36

IV. Simpulan dan Saran

Jika Gambang Semarang tetap memiliki masyarakat penggemar adalah suatu hal yang dapat dipahami.Kesenian tersebut sangat berpotensi sebagai entertainment, karena masing- masing unsur seninya yaitu musik, tari, vokal, lawak, dan busana mengandung unsur artistik yang khas serta bersifat menghibur.Semarang, sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, industri, dan juga pendidikan , tentusaja memiliki masyarakat yang membutuhkan seni pertunjukan sebagai sarana relax untuk melepasketegangan kesibukan sehari-hari. Suatu hal yang juga perlu dicatat adalah bahwa kesenian Gambang Semarang telah menjadi sarana integrasi yang bersahabat serta menghibur di antara orang Indonesia dan Cina di kota Semarang.

Sebagai suatu kesenian dengan akar historis yang kuat dan nilai-nilai positif yang telah disebut di atas, kualitas kesenian ini perlu senantiasa ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jamannya. Secara bersama-sama pemerintah dan masyarakat dapat membentuk management untuk mengelola modal, sumber daya manusia, ruang, waktu, promosi, dan pemasaran kesenian Gambang Semarang. Kualitas dan kuantitas pementasan kesenian ini dapat digarap sedemikian rupa agar tetap mendapat apresiasi masyarakat. Karena kesenian tersebut mengandung unsur-unsur kesenian yang khas milik “orang Semarang”, ia dapat menjadi salah satu identitas budaya kota Semarang.

CATATAN

1. Rustopo, Gendhon Humardani (1923-1983) – Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi, (Thesis, Universitas Gadjah Mada), 1990.

2. Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo, Ilmu Sejarah Dan Historiografi Arah dan Perspektif, (Jakarta: PT Gramedia), 1985, hlm. xiv.

3. Iman Moch. Kaliri, dkk., Melihat dari dekat Gambang Semarang, (Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Semarang), 1980, hlm. 5-6. Lihat juga Sie Boen Lian, “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut, 1938, hlm. 80-81.

4. Jajang Gunawijaya & Asep Solihin, Perkembangan Gambang Kromong, (Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1996, hlm. 19.

5. Iman Moch. Kaliri, dkk., op. cit., hlm. 2-3.

6. Liem Thian Joe, Riwajat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan), Semarang, 1933, hlm. 3-4.

7. Willmott, The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press), 1960, hlm. 1-2.

8. Amen Budiman, “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka, 18 Juli 1975.

9. H.J. De Graaf, dkk., Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, Terjemahan oleh Alfajri, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana), 1998, hlm. 3.

10. Peter Carey, Orang Jawa dan Masyarakat Cina (1755-1825), Terjemahan oleh Pustaka Azet, (Jakarta: Pustaka Azet), 1985, hlm. 19-20.

11. Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942, (Jakarta: Djambatan), 1996, hlm. 57.

12. Peter Carey, op. cit., hlm. 20-21.

13. Ibid., hlm. 32.

14. Liem Thian Joe, op. cit, hlm. 12.

15. Ibid., hlm. 202.

16. Sie Boen Lian, op. cit., hlm. 79.

17. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, September 1998.

18. Wawancara dengan Soengkono, 5 Oktober 1998.

19. Phoa Kian Sioe, “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”, dalamPantjawarna, Juni 1949, hlm. 38.

20. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

21. Tjia Koen Hwa, “Siapa Pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”, dalamPantjawarna, tahun XII 16 April 1960, hlm. 30.

22. Wawancara dengan Hartono, 12-13 Oktober 1998.

23. Mekar Sari 25 Desember 1991, hlm. 42.

24. Wawancara dengan Kwa Tong Hay, 9 Oktober 1998.

25. Wawancara dengan Gan Kok Hwi, 9 Oktober 1998.

26. Amen Budiman, “Gambang Semarang”, dalam Suara merdeka, 9 Pebruari 1974.

27. Wawancara dengan Tutik, 18 Oktober 1998.

28. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

29. Wawancara dengan Emy, 20 September 1998.

30. Wawancara dengan Jayadi, 13 Maret 1998.

31. Wawancara dengan Iman Prakoso, 25 September 1998.

32. Wawancara dengan Imam Prakoso, 25 September 1998.

33. Wawancara dengan Sayekti, 1 September 1998.

34. Wawancara dengan Kelli Puspita, 23 Agustus 1998.

35. Wawancara dengan Bintang, September 1998.

36. Kuntowijoyo, Demokrasi dan Budaya Demokrasi, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, hlm. 248.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974.

____________. 1975. “Mekarnya Pecinan”, dalam Suara Merdeka 18 Juli 1975.

Carey, Peter, 1985. Orang Jawa & Masyarakat Cina (1755-1825). Terjemahan oleh Pustaka Azet. Jakarta: Pustaka Azet.

Dhanang Respati Puguh, dkk., 1999. Penataan Kesenian Gambang Semarang sebagai Identitas Budaya Semarang. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi Tahun I Anggaran1998/1999. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.

De Graaf, H.J. dkk., 1998. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos. Terjemahan oleh Alfajri. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.

Gunawijaya, Jajang, & Asep Solihin. 1996. Perkembangan Gambang Kromong. Laporan penelitian tidak diterbitkan. Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Kuntowijoyo, 1994. Demokrasi dan Budaya Demokrasi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Liem Thian Joe, 1933. Riwayat Semarang (Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan). Semarang.

Lohanda, Mona. 1996. The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942. Jakarta: Djambatan

Moch. Kaliri, Iman, dkk. 1980. Melihat dari dekat Gambang Semarang. Kantor Departemen P Dan K Kodya Semarang.

Phoa Kian Sioe. 1949. “Orkest Gambang, Hasil Kesenian Tionghoa Peranakan di Djakarta”.Dimuat dalam Pantjawarna. Juni 1949.

Rustopo. 1990. Gendhon Humardani (1923-1983) – Arsitek dan Pelaksana Pembangunan Kehidupan Seni Tradisi Jawa Yang Modern Mengindonesia, Suatu Biografi. Thesis tidak diterbitkan. Universitas Gajah Mada.

Rejeki. 1991. “Ora Kabeh Budaya Asing Ala Tumraping Kesenian Tradisional”. dalam Mekar Sari, 25 Desember 1991.

Sie Boen Lian, 1938. “Gambang Kromong Muziek” dalam Mededelingen van Het China Instituut.

Tjia Koen Hwa. 1960. “Siapa pentjipta Aksi Kutjing, Gambang Semarang & Impian Semalam”. dalam Pantjawarna, tahun XII 16 April 1960.

Willmott, 1960. The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Perihal kjundip
Official Website UKM Kesenian Jawa Universitas Diponegoro, Semarang

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: